Assalamu'alaikum

pink purple flowers

Jumat, 04 Oktober 2013

Gadis Jalanan berselubung malam

Tentang pulang malam, nggak tidur semalam suntuk untuk ngerjakan tugas, ataupun tentang ospek... Sebenarnya ini bukan dunia baru buatku. Hanya saja, mendadak kini intensitasnya meningkat hingga melebihi 50 persen dalam seminggu.

Beberapa bulan lalu, seragam abu-abu masihlah menjadi kebanggaanku. Pulang maghrib masih aja menjadi kebiasaanku. Keluyuran tak tentu arah, kesasar karena tak pernah hafal jalan masih saja menjadi rutinitasku. Tapi sekarang bukan sekedar mashrib. Nyaris setiap hari aku pulang jam 9 malam bahkan lebih. Tidur jam 12, jam set2, atau bahkan begadang semalam suntuk. Hari minggu adalah yang terberat untuk mengunci diri di rumah.

Kenapa? Ini semua nggak lebih dikarenakan oleh tugas-tugas yang bejibun.
Juga tekanan untuk bisa kompak dan kenal dengan teman seangkatan sebagai syarat lulus pengkaderan.

Tak kenal lagi dengan novel, komik, bahkan sekedar buku bacaan.
Tak kenal nongkrong, jalan-jalan ataupun bersantai ria.

Yaa.. Ini memang masih masa transisi sebelum semuanya terasa normal dan biasa.

Tentang teman cowok... Sebenarnya ini juga bukan hal baru buatku.
Mungkin anak yang baru melihatku untuk pertama kali sering mamandangku dengan berbeda. Karena penampilanku atau tentang sikapku yang sering mencoba jaga jarak dengan lawan jenis. Padahal itu hanya sebatas ideologi yang harus kupatuhi dan kujaga kuat-kuat demi menjaga keoriginalan diri. (wkwkwk.. ). Bukan berarti aku anak yg tertup dan berniat menutup diri.

Aku sempat dibuat ketawa karena ada anak cowok yang nyeletuk, Jangan terlalu anti sama cowok, nanti kamu jadi kuper. Jangan terlalu fanatik deh kayak kata dosen tadi.
Hahaha.. dia belum tau siapa aku =))

Tapi sepertinya aku terlalu PD untuk bisa konsisten dan menjalani semuanya dengan mudah.
Sekali lagi, ini bukan jaman SMA yang teman-temannya lebih polos dan mudah dibuat mengerti.

Kondisiku saat ini: Satu kelas terdiri atas 27 anak yang mana 3 diantaranya adalah kami (wina, brenda, fito), para gadis tersesat. Can you feel how confuse I'm when I knew it?

Jujur saja, dulu aku prefer berteman dengan akhwat karena ada ideologi yang sama tersebut. Jangan salah, aku juga akrab kalau sama cowok, dalam tanda kutip. Jadi setelah menjalani beberapa hari dikampus aku langsung bisa mengondisikan diriku. yaa.. kupikir All is well.

Salaman? say no. Tos? eits, tak lesi. Salim? wait, I really doubt to say yes.

Perlahan, anggapan awal sudah hilang. Tapi tak kusangka mereka menanggapinya menjadi sebuah arti yang dibaca "biasa" atau "sama saja". As you know, ada kalanya semua yang terjadi di luar kendali kita.

2 Komentarmu..:

Unknown mengatakan...

aku juga dilahirkan di tempat dimana nilai nilai islami ditanamkan dengan sangat. salaman beda jenis juga gak pernah terjadi, tapi kami menjalani kehidupan yang normal.... :)

selamat berjuang!

Wina Zhonniwa mengatakan...

Toleransi memang kuncinya.. hmm.. Semoga lambat laun ini semua akan menjadi mudah :D

Demi setapak print foot

Duri-duri di jalan selalu saja bertebaran tiada habisnya. Menginjaknya adalah suatu kesalahan yang lebih disayangkan. Tapi berterima kasihlah banyak2 kepada mereka yang menyapu jalanan, menyelamatkan dengan solusi tanpa banyak cakap :' *your fellow*

Beloved akhi wa ukhti

free counters