Assalamu'alaikum

pink purple flowers

Senin, 21 Desember 2015

Bukan Aku

Terbaca, seseorang menulis ini : “Bila menjadi diri sendiri itu lebih indah, mengapa kekhawatiran itu masih ada di hatimu sayang?”

Ning berjaket kuning bercerita padaku beberapa hari yang lalu. Ini cerita tentang kedudukan kami dengan dua posisi bertitle serupa namun memiliki background yang berlawanan. Tentang merpati2 yang pernah kupelihara, terbang menelusuri jejakku yang melalang buana ke antah berantah nan tiada berujung. Ini tentang kami, yang kata ning jaket kuning “melawan hati nurani”.

Karena menjadi berbeda itu berat, tapi tak berarti latah yang membudaya harus diikuti. Memaksakan “ya” dan “harus” ditengah ketidakpahaman. Tidak, seharusnya tidak demikian, bahkan mr-mr pun mengajarkan keluwesan dalam bermuamalah.

Akankah berlian dan mutiara itu menggelapkan? pesta itu melalaikan? Ataukah aligator-aligator itu telah menjerumuskan? Those, what i’m scared about. You lost.

Agaknya nuri lebih mudah kurawat dibanding seekor merpati. Dengan setengah kadar harap, doaku mengarahkan kepak mereka ke peraduan cinta yang tepat. Sungguh, itu bukan aku yang meminta mereka melempar sepatu di tandon. Itu bukan aku yang membuang senyum karna sebuah sapaan. Sungguh, alur pengaderan ini jauh berbeda.

Satu hal, kuputuskan untuk tidak mengacau pun mengiyakan. Tak pernah bisa kami pungkiri, sebuah sarang semut adalah markas koloni yang terorganisir dan berkedudukan, dan kami-lah semut merah semut merah itu. Penciptaan kader adalah duplikasi visi.

Demi setapak print foot

Duri-duri di jalan selalu saja bertebaran tiada habisnya. Menginjaknya adalah suatu kesalahan yang lebih disayangkan. Tapi berterima kasihlah banyak2 kepada mereka yang menyapu jalanan, menyelamatkan dengan solusi tanpa banyak cakap :' *your fellow*

Beloved akhi wa ukhti