Assalamu'alaikum

pink purple flowers

Jumat, 28 Desember 2012

Keep our dreams alive

Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. 
Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri..

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. 
Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.. 
Keep our dreams alive, and we will survive..
[5cm]” 
Donny Dhirgantoro


Selasa, 25 Desember 2012

Bukan ukhuwah kita yang rombeng


  Karena saat ikatan melemah
                       saat keakraban kita merapuh...
                                Saat salam terasa menyakitkan
       saat kebersamaan serasa siksaan
                                           saat pemberian bagai bara api
 atau saat kebaikan justru melukai....

Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita, hanya iman-iman kita yang sedang sakit atau mengerdil, mungkin dua-duanya... Mungkin kau saja...
Tentu terlebih sering imankulah yang compang-camping.

(Salim A. Fillah' quotes)

Sabtu, 08 Desember 2012

Rinai dalam bingkai jendela

Disini sepi...
benar-benar sunyi yang mencekam...
kecuali para guntur yang terus menggelegar tanpa toleran...

Aku tahu,
rintihan kecil ini mungkin akan pecah tak lama lagi
menatap semesta kosong, hanya dengan sore-nya yang kelabu
tanpa rona merah, pun tanpa segerat mentari keemasannya.
Sesekali, senyumku terkembang sendu,
mengingat perjuangan yang berharga tinggi
dengan segumpal besar harapan dan seuntai rinai-rinai rindu.

Senja pengobat rindu itu kini tak lagi ada...
Meski dengan penantian panjang penuh harap,
aku tahu ia harus melalui semua samudera dan benua untuk bisa hadir di sini.

Tak mengapa...
luapan rindu dari langit ini akan memupuskan semuanya
ketika hujan dalam bingkai jendela kembali ku pandang dalam keterpanaan.
Menghapuskan kegundahan,
dan membawa sebuah dunia impian ke dalam pelukan.
Yang dengan keharmonisannya,
akan membawaku berlarian jauh hingga ke puncak khatulistiwa,
juga membimbingku dengan sepenuh kasihnya.

Dari balik bingkai ini...
aku akan memperjuangkan semuanya dengan segenap kemampuanku
meski dalam kesendirian yang menyedihkan,
meski dalam rindu yang menghimpit kalbu.

Dengan kedua bola mata yang memandang rinai-rinai hujan ini...
ku simpan tekad kuat.
Aku akan merasakan riak-riak hujan pemupus rindu itu dengan jemariku,
aku akan mendekapnya kuat bahkan dengan setiap jengkal yang ku mampu.
Dengan berbekal senyum sendu,
tanpa terlupa...
sepaket rinai dalam bingkai jendela.



Rabu, 05 Desember 2012

Ikhlas itu....

seperti,
daun yang jatuh tak pernah membenci angin,
sepatu yang terinjak tak pernah membenci kaki,
buku yang tergores tak pernah membenci pena,
kertas yang robek pun tak pernah membenci gunting,

Juga seperti halnya surat al-Ikhlas, yang di dalamnya tak ada kata ikhlas.

Kala warna tergores dalam kanvas
segala kesucian nampak berpeluh noda
sekali dan seterusnya mengoyakku tanpa daya
Ingin sekali ku menjerit pilu
untuk tak lagi menyiksaku sedemikian rupa
seakan tersayat ribuan sembilu,
diriku tak lagi berrupa dan tak lagi teristimewa.
mungkin inilah untaian rantai-rantai tak berujung
yang membelitku dengan menyisakan setapak tanpa makna.
Hingga api hampir saja menyambarku
nyaris pula kusambut dengan pelukan rindu.
ya, aku lelah.
mungkin ku habisi saja semua kisah ini..
hanya sampai disini. 
Tak disangka
Sehembus angin pemutus duka
hadir membelaiku hingga tak lagi kuasa
menggendongku dalam bentangan sayapnya 
hinggap pada hadapan selembar hologram cahaya
bak bintang kejora turun dari nirwana.
sekejap saja memutuskan segala gelombang beta dan gamma.
Membuatku terpana, tak tahu harus berkata apa

Siapa gerangan ?
yang bersinar disana, keemasan
begitu menawan, begitu rupawan dan dermawan
.
Mungkin seharusnya beginilah hidup
Menyesal tlah terpenjara dalam kesia-siaan
menyesal pula karena tak pernah mencoba berteman dengannya
dengan sesuatu yang menjadikan segalanya indah
yang menebarkan benih-benih keharmonisan yang bersemaikan di hati 

Mungkin dialah yang sering dibicarakan orang-orang itu
ya.. kurasa begitu!
Karena dia itu tulus. dia selalu rela dan menerima.
bukan menyerah pun putus asa 
Ia hanya ber-tawakkal dan ber-tawaddhu'
Pantaslah ia nampak selalu bercahaya
seakan bernaung di bawah milyaran bintang
bersinar secerah hati-hati yang senantiasa berbalut cinta 
keikhlasan dalam hati ikhlas yang ikhlas.
itu ada karena dia... 
ikhlas :)


Pengkristalan karakter untuk kekayaan mental


Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!" 
"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak. 
Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.
Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang." 
Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om." 
Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya." 
Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.
Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?
"Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.
Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung dengan gembira. 
Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu." 
Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."


RENUNGAN!
Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.
Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

(by: Ikhwah Gaul)

Minggu, 02 Desember 2012

Virus

Sudah tak ingat sejak kapan ini semua berlangsung. ah, itu memang kejadian beberapa bulan lalu yang sejak itu, mungkin bahkan hingga hari ini pun bukan sesuatu yang terlalu ku perhatikan. Tapi.. sepenggal kisah 2 Tsuru (origami bentuk burung) membuat sesuatu itu menelusup kembali. Mungkin bukan.. Ini tak lagi sekedar tentang beberapa bulan lalu, tapi 4 tahun lalu. Ini bukan kisah yang ingin selalu ku ingat, tapi cukup untuk membuatku selalu teringat. Bukan trauma, hanya sebuah kewaspadaan. Ini virus!

Aku ingat tahun itu kita sama-sama anggota sandal jepit. *Lihat, bahkan baru menulis ini saja bulu kudukku serasa berdiri semua*. Karena sejak itu, semuanya memang tak lagi sama meski topeng yang terpasang tetaplah raut yang sama. mulanya semua berjalan seperti biasa.. setiap ada sms, aku selalu tergopoh-gopoh untuk membukanya, menunggu-nunggu bahasan apalagi yang akan kau lontarkan sehingga membuatku tertawa. Kiki yang membuatku penasaran. Yang bahasannya sering kali membuatku jengkel setengah mati. Hingga pada akhirnya statement-statement itu membuatku curiga kau memang salah satu sandal jepit itu. Dan seperti pada endingnya yang buruk, semua itu berujung pada kehancuran seluruh jaringan komunikasi diantara kita.

Mungkin kau melihat ini sesuatu yang baik-baik saja. Ya, karena lagi-lagi semua arsip ini merupakan dokumen negara yang bersifat rahasia :))

Selanjutnya secara berurutan, kejadian seperti ini tak pernah sepi menerjang.
Mungkin kalian tahu dimana aku bisa menemukan anti virus untuk virus jenis ini?
Seperti sebelumnya, tak pernah jauh dari itu... Aku selalu bergetar ketakutan ketika mereka berdatangan.

Dan.. Hari ini aku baca tsuru for you. Aku tahu itu terlihat sangat jahat, dan menyedihkan.
Tapi... seseorang yang lain disana....

hm...
mungkin juga tidak.
atau mungkin karna itu juga aku.

Bisikan tanpa rupa

Suara ini memang tak akan terdengar oleh siapa pun, aku tahu. meskipun jauh di dalamnya banyak teriakan-teriakan yang sangat ingin kulontarkan agar mereka semua tahu. Sesuatu yang introvert dalam ke-ekstrovertannya. Aku memang tak tahu, tak tahu dunia macam apa yang di inginkan jeritan-jeritan itu. Aku hanya mencoba untuk mendengarkan, menerjemahkan, dan mempelajarinya.

Tapi untuk kesekian kalinya, tangan-tangan tak bertanggung jawab ini justru berusaha mati-matian membungkam suara-suara itu. Berusaha mematikan potensi dan energinya, yang aku tahu seharusnya mereka bisa berkembang pesat menjadi besar, menjadi sebuah kekuatan mega dahsyat yang bahkan mungkin mampu membantu meluluh lantakkan dunia ini dalam keteraturan.

kenapa tega sekali membiarkan teriakan itu menjerit pilu?
membiarkan yang disini meneteskan bulir-bulir perjuangannya, sedang melihat tangan-tangan ini terus menerus mencekcokinya dengan segala kehendak mereka. Aku sedih, tentu saja~

Khususnya kemarin..
mungkin itu hari terburuk yang pernah ada... Seseorang yang tampak salah dalam segala hal, dalam segala posisi, dalam segala keadaan, bahkan dalam setiap situasi dan tempat.
Lagi-lagi jeritan itu hanya bisa terisak dalam diam, yang hanya mampu terurai dalam bait-bait permohonan serta lembaran-lembarannya. Sekali saja, atau berulang kali.. aku tetap tak mengerti, kalian apa lagi.

Sudahlah, tak mengapa...
lagipula energi ini tak akan bisa di padamkan. Tepat sebagaimana hukum kekekalan energi berlangsung. Ia terlalu kuat untuk bisa dihancurkan. Aku yang akan memanfaatkannya jika mereka tak mau.

Hanya.. dan kecuali satu.
seonggok daging disini tak lagi bisa percaya, kecuali pada yang dua disini.

Sabtu, 01 Desember 2012

Cintaku berlabuh di Gaza


Hanya lima hari..
Ya… hanya lima hari aku singgah di bumimu
Tapi serasa aku sudah menjadi bagian darimu
Seakan aku lahir dan besar bersamamu
Bermain berlari dan bekerja di atas tanahmu

Saat kakiku akan menginjak tanah gaza
Aku mengira akan disambut wajah duka
Guratan luka dan penampilan nestapa
Tangan meminta serta mimik menghiba

Ternyata tidak
Aku tlah salah sangka dan salah duga
Engkau sambut kami dengan penuh suka
Wajah ceria dan hati gembira
Seolah kami malaikat yang turun dari sorga

Gaza…
Pertama kali aku shalat shubuh di masjidmu
Aku berdecak kagum atas ramainya jamaah di situ
Sekaligus tertunduk malu atas diriku
Karena masjid-masjid di negeriku tidak begitu

Ketika aku shalat zuhur berjamaah
Di masjid ‘Umary nan tertua dalam sejarah
Aku kira itu adalah hari jumat yang penuh berkah
Ternyata memang mereka sudah biasa shalat berjamaah

Gaza…
Walaupun roket-roket Israel sering menghantammu
Pesawat-pesawat siluman datang tak menentu
Panglima-panglima utamamu syahid satu-persatu
Namun perjuanganmu justru makin menggebu

Seorang lelaki tua datang kepadaku bertanya
Hai anak muda.. anda dari Indonesia?
Bagaimanakah pemuda-pemudi di sana?
Apakah jihad bersemayam di dada-dada mereka?

Gaza…
Engkau punya anak-anak muda dan orang tua
Yang jihad fiisabiilillah adalah jalan hidupnya
Mati syahid adalah cita-cita tertingginya
Sorga Firdaus adalah kampung abadinya

Izzuddin Al Qassam, Ahmad yasin sebagai Panglima
Abdul Aziz Rantisi, Shalah syahatah yang mulia
Syekh Shiyam dan Ahmad Ja’bary yang perkasa
Adalah putra-putra terbaikmu yang tlah bergelar syuhada

Khalid Misy’al, Musa Abu Marzuq dan Ismail Haniya
Muhammad Dhaif, Mahmud Zhahar dan Abu Ubaida
Abu Yusuf, Izzuddin Dahnun dan selain mereka
Masih banyak lagi dan terus berjanji setia
Gaza… cintaku tlah berlabuh di sana…


(Padang, 22 Nov 2012, Hari kemenangan Gaza)
Puisi : Ust. H. Irsyad Syafar Lc, MA (Ketua KNRP Sumbar, Utusan Penyerahan Bantuan Ke Gaza, Alumnus Timur Tengah, Ex Ketua PPI Mesir)







“Mengapa mereka begitu semangat menghafalkan Al Quran?”

“Karena syarat untuk menyertai Brigade Izzudin Al Qassam ialah harus Hafal Al-Quran 30 Juz. Anak-anak ini berlomba-lomba ingin menyertai mereka dan syahid karena-Nya”

Kita..???

********
Simak kisah ini...











Demi setapak print foot

Duri-duri di jalan selalu saja bertebaran tiada habisnya. Menginjaknya adalah suatu kesalahan yang lebih disayangkan. Tapi berterima kasihlah banyak2 kepada mereka yang menyapu jalanan, menyelamatkan dengan solusi tanpa banyak cakap :' *your fellow*

Beloved akhi wa ukhti