Assalamu'alaikum

pink purple flowers

Senin, 15 Juni 2015

Menurutmu Kami Bahagia ? Terlahir sebagai anak Kader. . .


reblog dari : https://lapislazulum.wordpress.com/2013/09/27/menurutmu-kami-bahagia-terlahir-sebagai-anak-kader/

Dalam banyak diskusi dan orang orang yang kutemui, mereka selalu berharap lahir dari pasangan kader. Menurut mereka dibesarkan | pastinya akan bahagia ketika orangtuanya adalah para kader.  Ah, aneh sekali bagiku ! Justru, aku begitu kagum ketika melihat hijrahnya seseorang dan perubahannya karena murni juang ia sendiri mencari hidayah | ada yang harus sembunyi sembunyi memakai kerudung, ada yang dibiarkan saja justru orang tua nya mendukung untuk berpacaran,dll. Entahlah, berapa banyak aku, kami yang dilahirkan dari asuhan tarbiyah sejak dalam kandungan yang juga berfikir seperti itu. Menurutmu kami bahagia ?
Bagi sebagian kami itu kebalikannya, yang ditakdirkan oleh Allah lahir dari rahim abi umi, yang sering disebut banyak orang sebagai anak kader. Ah, panggilan itu begitu menyesakkan. Karena kami dinilai dan dikenali dari abi umi kami. Kami dinilai apakah kualitas kami seperti abi umi. Setiap acara yang kami datangi selalu ada kolom khusus nama orang tua. Selalu dan selalu. Dalam setiap acara selalu berhadapan dengan pertanyaan, bagaimana abi umi ?  Menurutmu kami bahagia ?
Berapa banyak orang yang aku temui, yang aku yakin belum pernah menemuinya sebelumnya tapi mengetahui namaku. Ah, ini anaknya ***. Dikenali dari siapa orang tua kami. Di absen dan dicari berdasarkan siapa orang tua kami.  Sering ditinggalkan ketika kecil oleh abi umi dengan alasan dakwah. Di tinggal sendirian dirumah dan menghabiskan banyak waktu bersama khadimat (asisten rumah tangga). Menurutmu kami bahagia ?
Uang jajanku akan dipotong jika aku tidak berangkat mengaji *sebut halaqoh. Bahkan saat sekolah dasar seperti itu, abi umi akan selalu setia mengantarkan aku-kami jika waktu rutinan telah hadir. Menonton tv berlebihan, tidak segera sholat ketika adzan, tidak menyetorkan hafalan, tidak memakai kerudung ketika keluar rumah. Ah itu semua akan berakibat fatal – dipotongnya uang jajan. Menurutmu itu menyenangkan ?
Aku – kami dan seluruh adiku hampir menghabiskan waktu lebih banyak dengan khadimat sejak kecil hingga sekarang.  Abi umi selain bekerja di luarkota, waktunya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, untuk mengisi ini itu – rapat ini itu – datang acara ini itu. Untuk sekedar cerita saja, harus membuat janji. Menurutmu kami bahagia ?
Adikku pernah lupa dijemput dan miskomunikasi hingga tertinggal di sekolah lebih dari 4 jam. Tapi untuk kajian abi umi G pernah lupa. Menurutmu kami bahagia ?
Kami bahagia ! Aku bahagia sepenuhnya dan bersyukur atas segala takdirNya !
Aku dan kami semua yang terlahir dari rahim rahim tarbiyah sejak dalam kandungan bersyukur dan ingin membisikkan padamu abi umi, “ Terima kasih telah lahirkan aku dari rahimmu.  Abi umi, jazakallah khairan katsir atas segalanya. “
Aku teringat, ketika dahulu kecil kami harus mengikuti aksi ini itu di terik matahari. Ketika dalam sebuah pemilu dahulu, aku pernah bertanya “ umi, ngapain sih kita pake bikin kotak makan sebanyak ini ? Kenapa G orang lain aja ? repot. Emang buat siapa sih ? “.  Dengan pelan umi jawab “ ini buat amih amih yang jaga di TPS kak. Nanti, Allah akan ngasi kakak rejeki yang banyak banget kalo kakak mau bantu umi. “ Ah, sekarang aku tau, saat itu umi diamanahi untuk menyiapkan konsumsi bagi semua saksi. Tenang saja umi, kami sekarang sudah terbiasa menghabiskan banyak uang dan itu tidak masalah. Sudah terbiasa aksi ini itu tidak peduli kulit hitam.
Aku teringat pesannya, kami dibina sejak kecil agar menjadi barisan terdepan di saat saat seperti ini. Saat dakwah abi umi dicaci dan banyak yang akan menghancurkannya, maka aku pastikan, bahwa kami akan ada di garis terdepan untuk menegakkannya dan melindunginya. Tragedi di 2013 ini, menyadarkan banyak dari kami atas apa yg sudah diperjuangkan selama ini. Aku menangis ketika seorang anak kader menangis menceritakan apa yang disampaiakn umi abinya sebelum tragedi kedholiman besar itu “ Kakak baik baik ya. Apa kakak akan baik baik saja jika abi umi ditangkap?”. Harus baik baik saja. Bahkan jika itu suami kamipun, kami harus siap ! karena itu kami dibina sejak belia.
Untuk para umi amah, yang memperjuangkan jilbab di era 80 an– yang menghadapi teror akademis universitas ataupun teror kematian. Untuk amah amah yang tertembak mati secara misterius | tidak ada barangnya yg hilang – juga tidak ternodai sedikitpun | aku ingin menyampaikan | jazakumullah khairan katsir.
Untuk para abi yang pulang larut malam namun tetap melanjutkan untuk rutinan ataupun mengisi disana sini | Yang sudah merelakan kehilangan banyak waktu bersama putra putrinya | Sungguh kau membuat putri putrimu mendambakan pendamping sepertimu. | Jazakumullah khairan katsir
Pesan ustad Hamy selalu terngiang “ Abi dan umi kalian bertemu dalam dakwah untuk menghasilkan generasi yang jauh lebih cinta dakwah. “
Dan aku pun mempercayainya “ Aku akan bertemu dengan abi, ayah dari anak anak ku di jalan ini, untuk melahirkan generasi yang jauh jauh lebih cinta dakwah. ”
Kami dibina sejak kecil agar saat ini, kami berada di garis terdepan pembelaan terhadapNya. Bersyukurlah bagi kalian yang dilahirkan dalam keluarga dakwah. Tetap bersyukurlah, bagi kalian yg tidak dilahirkan dalam kondisi ini, karena kalian telah membuat kami iri sepenuhnya.
Aku ingin | aku harap |  dan akan membuat buku yang secara khusus ku persembahkan dari himpunan tulisan seluruh putra putrimu untuk seluruh abi umi,  yang telah melahirkan generasi yang dinanti itu | mereka putra putrinya yang didoakan siang dan malam untuk mampu melanjutkan yang sudah mereka mulai. Aku bersungguh sungguh ingin menghadiahkan itu kepada seluruh abi umi, amah ami, ustadz dan ustadzah kami semua yang telah melahirkan kami dari asuhan tarbiyah sejak dalam kandungan. Jazakumullah khairan katsir
27 September 2013
=======================================================
Entah ya, rasanya campur aduk banget bacanya...
Of course aku sangat bangga dan bahagia terlahir sebagai anak kader. Tapi ya gitu, entah bagaimana selama ini aku begitu nakal dan betingkah yang nggak nggak. Jadi ingat gimana halaqoh jaman aku SD, apapun yang dibicarakan sama amahnya cuma masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Bahkan sampai sekarang masih ababil gini. Punya pemikiran sendiri, susah diatur, ditegur, apalagi kalau pakai nada tinggi. Meledak-ledak sampai yang lihat bingung. Padahal aku juga tau betapa besar harapan yang ditumpukan ummi abi di pundak-pundak kecil kami. Dan sebenarnya aku juga punya cita-cita besar yang sering kali dalam pencapaiannya susah untuk dikomunikasikan, jadi lebih sering disalahpahaminya dari pada enggak. Percayalah, aku insyaAllah bisa jadi seperti apa yang kalian harapkan, mauku sih lebih. hehe. 

Aku percaya, cita-cita besar kaum muslimin semua pasti akan terwujud.
Sudah janji Allah kan?
Meski sekarang masih dalam barisan yang terpisah-pisah, dalam wajihah yang berrupa-rupa, juga dengan pengambilan metode yang berbeda. Aku percaya kelak semuanya perlahan akan bersatupaham, bahwa pada dasarnya tujuan kita adalah sama.

_Islam is the way of life_
ini capture dari blog miruna : http://mirunasays.blogspot.com/2015/06/jadi-harus-hormati-siapa.html

Bismillah!

Demi setapak print foot

Duri-duri di jalan selalu saja bertebaran tiada habisnya. Menginjaknya adalah suatu kesalahan yang lebih disayangkan. Tapi berterima kasihlah banyak2 kepada mereka yang menyapu jalanan, menyelamatkan dengan solusi tanpa banyak cakap :' *your fellow*

Beloved akhi wa ukhti