Assalamu'alaikum

pink purple flowers

Selasa, 01 Mei 2012

Movie in progress

PR alias pekerjaan rumah. Entah mengapa tak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk di perioritaskan. Lagi-lagi tugas kelompok, sekali lagi segalanya semakin rumit karena otak dan mulut lebih dari satu.

Sebuah drama, sesuatu yang dulu mencoba ku geluti melalui ekskul teater di kelas 1 putih-biru. Tapi tak lagi menjadi menarik di kelas 1-1 putih-abu". Banyak hal kini lebih dipertimbangkan dengan segala kebimbangan masing-masing. Ah, Masa-masa labil. Ini gara-gara kegalauan yang tiba-tiba saja mengincar kaumku.

Tapi, bukan sesuatu yang bisa dibanggakan dengan sesuatu yang setengah-setengah. Oleh karena itu, kini aku mencoba untuk membuatnya penuh, hingga akhir yang sempurna. Tak sekedar drama.

Hampir dua minggu sudah kugarap. Meski sekali-kali penghargaan itu tak datang, tidak mengapa. berbesar hati saja. Jika memang jauh dari harapan sempurna, ayo kita mencobanya sekali-lagi. Mari berbesar hati meski terhimpit di tengah pilihan yang sulit.

Sepuluh take dalam sekali scene, yah, itu karena kami bukan profesional. Hanya berusaha untuk menjadi seseorang yang profesional.

Elok : chasing someone
Tentri : hope crash the school police
Tanti : as big boss of mafia
Hezha : angry to his brother
Prana : save the bag
Wina : after crashed by red

Prana - Wina : he asked sorry to her
Fariz : as narator

My group : read the script
Prana - Hezha : he feel sad

Itu hanya cuplikan behind the scene. Tapi, seperti yang semua orang tahu, acting kebanyakan tidaklah nyata. Apalagi kami, kita, aku. harus di akui, banyak tipuan disana. Jadi, Apa yang kamu pikirkan belum tentu sama dengan yang kamu lihat, dan yang kamu lihat belum tentu terjadi pada kenyataannya. Ilusi belaka.

Malu, tentu saja. Sungkan, apalagi. Risih, uhh, poll.
Semua kembali <siapa sih ini yang buat scrip-nya?> ^^v *haha, bercanda*
bersyukur dengan posisiku... Menyesal dengan peranku...

Minggu, 29 April 2012

Sedekah

Bismillahirahmaanirahiim


pernahkah kamu mendengar kisah yang begitu mengetukmu..?
baru saja, kujumpai kisah.. yang sekali lagi begitu menyentuh hati~

dan semoga kisah ini dapat menyentuh hati banyak orang dan membawa p.e.r.u.b.a.h.a.n yang lebih baik bagi diri ini, dan orang lain~

inilah kisah sang kakek tua, penjual amplop di ITB~
Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB, Rinaldi Munir.

adalah kisah tentang seorang kakek, yg tidak lelah dan gentar berjuang untuk hidup, dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di masjid salman itb.

sahabat, zaman sekarang..
amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan,
tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya
dan pulang dengan tangan hampa,

mari kita dengar, kisah sang penulis

"setiap menuju ke masjid salman itb untuk shalat jumat, saya selalu melihat seorang kakek tua yg duduk terpekur, di depan dagangannya. hmm.. taukah apa yang ia jual?

ia menjual kertas amplop yg sudah dibungkus di dalam plastik, sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yg memenuhi pasar kaget di seputaran jalan ganesha setiap jumat.

pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, dvd bajakan, barang mainan anak, sepatu, dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yg tdk terlalu dibutuhkan pada zaman serba elektronis ini.

masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun kakek itu tetap menjual amplop. mungkin kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yg serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yg tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba.
siapa sih yang mau membeli amplopnya itu?
tidak satupun orang yg lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid salman seolah tidak mempedulikan kehadiran kakek tua itu.

kemarin ketika hendak shalat jumat di salman, saya melihat kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur, saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkannya.

yah, sekedar ingin membantu kakek itu melariskan dagangannya.

seusai shalat jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu.

“seribu”, jawabnya dengan suara lirih.

oh tuhan, harga sebungkus amplop yg isinnya sepuluh lembar itu, hanya seribu rupiah? uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala, pada pedagang gorengan di dekatnya! uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan, kala mendengar harga yang sangat murah itu.

“saya beli ya pak, sepuluh bungkus" kata saya

kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar.
saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop?
kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir.
tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp750.

“kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya.

jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si kakek tua.

Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dg menaikkan harga jual, sehingga keuntungan berlipat-lipat, kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yg tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja, keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan.

siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang?
dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar, sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis.

saya segera bergegas pergi meninggalkannya, karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.
sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook,

yang bunyinya begini:
“kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yg tak laku-laku, ibu-ibu tua yg duduk tepekur di depan warungnya yg selalu sepi"
carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal, dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”

si kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku.

cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka, adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka, meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal dari pada harga di mal dan toko.

tetapi dg membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya,
karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

dalam pandangan saya kakek tua itu lebih terhormat, daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. para pengemis itu mengerahkan anak-anak, untuk memancing iba para pejalan kaki.

tetapi si kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yg keuntungannya tidak seberapa,

di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yg saya beli tadi, mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu, tetapi uang sepuluh ribu yg saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si kakek tua.

kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya.

mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini.
tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

mari kita bersedekah lebih banyak, kepada orang-orang yg diberikan kemampuan ekonomi lemah. 
Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.
semoga bermanfaat."

subhanallah walhamdulillah~
wallahualam bishowab,
wassalamualaykum warahmatullah wabarakatuh,
barakallahu fiikum

~*aisyah asyafiyah*~


Diambil dari : 
notes mbak @Almira Qatrunnada Qurratu'ain 
dari mbak @ Aisyah Asyafiyah 

Minggu, 22 April 2012

Gowes ke Taman Bungkul

Assalamu'alaikum teman-teman semua :D
Wah, hari ini cerah sekali yah, kayak hatiku yang akhirnya bisa senang dan keluar dari pekan galau di sekolah. Hari ini ada peringan milad pks ke-14. Sebenernya sudah berniat ikut sejak kemarinnya, tapi karena bangun kesiangan dan harus jemput amah dulu di Bratang alhasil kita berangkat jam 6 pagi. Jarang-jarang lho aku bisa sepedaan meskipun hari minggu. Agenda kegiatan yang banyak ku ikuti membuatku jarang ada libur, seperti saat libur UNAS kemarin anak SKI justru disibukkan oleh syuro dan syuro.

Matahari telah terbangun sejak beberapa jam sebelumnya, jadi jalanan juga sudah sangat ramai. Kami pun batal mengikuti pembukan Pancal Klub Sejahtera dan berbelok langsung ke Taman Bungkul. Sedangkan adik-adikku yang lain langsung menyusul ke taman bungkul naik mobil bersama orang tua. Waah, rame bangeet disana, bener-bener udah seperti lautan manusia. Dan hampir di setiap langkah kita di sepanjang jalan car free day terdengar berbagai macam musik yang semua tabrakan. Ada senam Jawa Pos, Panggung SBO, dan beberapa panggung dari iklan-iklan produk yang semua mendirikan tenda masing-masing.

Sebelum anggota keluarga sampai disana, Aku, Ziehah, juga amah memutuskan untuk bersepeda keliling dan sempat mampir ke depan kebun binatang untuk berfoto ria :))

itu adikku yang ke-dua asik narsis dengan auntie

Nah, sekarang giliranku untuk ikutan nampang di depan kamera. Biar nggak cuman jadi tukang jepret gambar aja.. hahahaa. Itu lambang kebesaran kota Surabaya alias Suro lan Boyo.



Karena foto di depan dan dibawah aja kan nggak asik, akhirnya aku memulai dengan memanjat naik ke badan buaya. Liciin banget sampai mau jatuh kepleset. Ku buktikan untuk kesekian kalinya bahwa kostum tidak menghalangi untuk bersenang-senang. hehe. Ingat waktu dulu aku sedikit paksa-paksaan sama para petugas karena rafting pakai rok dan nggak mau ganti celana. Maaf ya pak, karna saking frustasinya si bapak sampai mau nangis ku buat. Tapi, lihat? bahkan jatuh kejebur air aja enggak kok. Asal kita mau, semua InsyaAllah bisa dilakukan. *menutup kedok anak nakal*.

Dan tahukah kalian kalau setelah itu banyak pengunjung yang ikut meniru aksiku, wkwkw. Tapi mereka laki-laki semua, padahal menurutku itu nggak tinggi-tinggi amat kok. Tapi kemudian akhirnya aku disuruh sama amah untuk turun karena ada anak balita mulai ikut-ikutan mau naik. huaa, oke deh, ayo kabuur..



Akhirnya kita bersepeda kembali sampai di Taman Bungkul karena sudah di sms ummi. Dan lihat, gambar di atas adikku yang ke-6 yang berusaha keras untuk mencapai setir dan main dengan sepeda. Oiya, satu lagi yang sempat bikin aku ketawa, waktu ada yang meneriaku "mbak, saltum mbak!" alias salah kostum. Ya ya ya, mereka semua rata-rata pakai celana training kalau main sepedaan. Yang tambah terlihat jelas adalah aku bersepeda dengan sepeda kebo milik adikku yang laki-laki, itu yang biru. Tapi apalah daya ya dipakai saja, karena sepedaku kan gaya sepeda perempuan berwarna pink, untuk gowes aku bilang berat waktu ngayuhnya. Sudahlah pede saja, asal tidak menyalahi aturan dan menerobos lampu merah di jalan *apa sih*.. :))

Akhirnya ku tutup weekend hari ini dengan kembali bersepeda ke rumah nenek, dan orang tua juga adik-adik ikut berkumpul disana. Kita semua makan siomay yang di beli untuk sekeluarga waktu di taman bungkul. Alhamdulillah ya :3

Oke, aku sekarang harus pulang ke rumah dan berganti dengan motor pink kesayanganku kemudian pergi syuro rutin Teens Club. Huaa, aku besok ada ulangan fisika. oke2, *letakkan tangan di dadamu* dan katakan "ALL IZ WELL" =))
See ya, semua.. selamat menikmati weekend :D

Demi setapak print foot

Duri-duri di jalan selalu saja bertebaran tiada habisnya. Menginjaknya adalah suatu kesalahan yang lebih disayangkan. Tapi berterima kasihlah banyak2 kepada mereka yang menyapu jalanan, menyelamatkan dengan solusi tanpa banyak cakap :' *your fellow*

Beloved akhi wa ukhti

free counters