Assalamu'alaikum

pink purple flowers
Tampilkan postingan dengan label Copas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Copas. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2015

Menurutmu Kami Bahagia ? Terlahir sebagai anak Kader. . .


reblog dari : https://lapislazulum.wordpress.com/2013/09/27/menurutmu-kami-bahagia-terlahir-sebagai-anak-kader/

Dalam banyak diskusi dan orang orang yang kutemui, mereka selalu berharap lahir dari pasangan kader. Menurut mereka dibesarkan | pastinya akan bahagia ketika orangtuanya adalah para kader.  Ah, aneh sekali bagiku ! Justru, aku begitu kagum ketika melihat hijrahnya seseorang dan perubahannya karena murni juang ia sendiri mencari hidayah | ada yang harus sembunyi sembunyi memakai kerudung, ada yang dibiarkan saja justru orang tua nya mendukung untuk berpacaran,dll. Entahlah, berapa banyak aku, kami yang dilahirkan dari asuhan tarbiyah sejak dalam kandungan yang juga berfikir seperti itu. Menurutmu kami bahagia ?
Bagi sebagian kami itu kebalikannya, yang ditakdirkan oleh Allah lahir dari rahim abi umi, yang sering disebut banyak orang sebagai anak kader. Ah, panggilan itu begitu menyesakkan. Karena kami dinilai dan dikenali dari abi umi kami. Kami dinilai apakah kualitas kami seperti abi umi. Setiap acara yang kami datangi selalu ada kolom khusus nama orang tua. Selalu dan selalu. Dalam setiap acara selalu berhadapan dengan pertanyaan, bagaimana abi umi ?  Menurutmu kami bahagia ?
Berapa banyak orang yang aku temui, yang aku yakin belum pernah menemuinya sebelumnya tapi mengetahui namaku. Ah, ini anaknya ***. Dikenali dari siapa orang tua kami. Di absen dan dicari berdasarkan siapa orang tua kami.  Sering ditinggalkan ketika kecil oleh abi umi dengan alasan dakwah. Di tinggal sendirian dirumah dan menghabiskan banyak waktu bersama khadimat (asisten rumah tangga). Menurutmu kami bahagia ?
Uang jajanku akan dipotong jika aku tidak berangkat mengaji *sebut halaqoh. Bahkan saat sekolah dasar seperti itu, abi umi akan selalu setia mengantarkan aku-kami jika waktu rutinan telah hadir. Menonton tv berlebihan, tidak segera sholat ketika adzan, tidak menyetorkan hafalan, tidak memakai kerudung ketika keluar rumah. Ah itu semua akan berakibat fatal – dipotongnya uang jajan. Menurutmu itu menyenangkan ?
Aku – kami dan seluruh adiku hampir menghabiskan waktu lebih banyak dengan khadimat sejak kecil hingga sekarang.  Abi umi selain bekerja di luarkota, waktunya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, untuk mengisi ini itu – rapat ini itu – datang acara ini itu. Untuk sekedar cerita saja, harus membuat janji. Menurutmu kami bahagia ?
Adikku pernah lupa dijemput dan miskomunikasi hingga tertinggal di sekolah lebih dari 4 jam. Tapi untuk kajian abi umi G pernah lupa. Menurutmu kami bahagia ?
Kami bahagia ! Aku bahagia sepenuhnya dan bersyukur atas segala takdirNya !
Aku dan kami semua yang terlahir dari rahim rahim tarbiyah sejak dalam kandungan bersyukur dan ingin membisikkan padamu abi umi, “ Terima kasih telah lahirkan aku dari rahimmu.  Abi umi, jazakallah khairan katsir atas segalanya. “
Aku teringat, ketika dahulu kecil kami harus mengikuti aksi ini itu di terik matahari. Ketika dalam sebuah pemilu dahulu, aku pernah bertanya “ umi, ngapain sih kita pake bikin kotak makan sebanyak ini ? Kenapa G orang lain aja ? repot. Emang buat siapa sih ? “.  Dengan pelan umi jawab “ ini buat amih amih yang jaga di TPS kak. Nanti, Allah akan ngasi kakak rejeki yang banyak banget kalo kakak mau bantu umi. “ Ah, sekarang aku tau, saat itu umi diamanahi untuk menyiapkan konsumsi bagi semua saksi. Tenang saja umi, kami sekarang sudah terbiasa menghabiskan banyak uang dan itu tidak masalah. Sudah terbiasa aksi ini itu tidak peduli kulit hitam.
Aku teringat pesannya, kami dibina sejak kecil agar menjadi barisan terdepan di saat saat seperti ini. Saat dakwah abi umi dicaci dan banyak yang akan menghancurkannya, maka aku pastikan, bahwa kami akan ada di garis terdepan untuk menegakkannya dan melindunginya. Tragedi di 2013 ini, menyadarkan banyak dari kami atas apa yg sudah diperjuangkan selama ini. Aku menangis ketika seorang anak kader menangis menceritakan apa yang disampaiakn umi abinya sebelum tragedi kedholiman besar itu “ Kakak baik baik ya. Apa kakak akan baik baik saja jika abi umi ditangkap?”. Harus baik baik saja. Bahkan jika itu suami kamipun, kami harus siap ! karena itu kami dibina sejak belia.
Untuk para umi amah, yang memperjuangkan jilbab di era 80 an– yang menghadapi teror akademis universitas ataupun teror kematian. Untuk amah amah yang tertembak mati secara misterius | tidak ada barangnya yg hilang – juga tidak ternodai sedikitpun | aku ingin menyampaikan | jazakumullah khairan katsir.
Untuk para abi yang pulang larut malam namun tetap melanjutkan untuk rutinan ataupun mengisi disana sini | Yang sudah merelakan kehilangan banyak waktu bersama putra putrinya | Sungguh kau membuat putri putrimu mendambakan pendamping sepertimu. | Jazakumullah khairan katsir
Pesan ustad Hamy selalu terngiang “ Abi dan umi kalian bertemu dalam dakwah untuk menghasilkan generasi yang jauh lebih cinta dakwah. “
Dan aku pun mempercayainya “ Aku akan bertemu dengan abi, ayah dari anak anak ku di jalan ini, untuk melahirkan generasi yang jauh jauh lebih cinta dakwah. ”
Kami dibina sejak kecil agar saat ini, kami berada di garis terdepan pembelaan terhadapNya. Bersyukurlah bagi kalian yang dilahirkan dalam keluarga dakwah. Tetap bersyukurlah, bagi kalian yg tidak dilahirkan dalam kondisi ini, karena kalian telah membuat kami iri sepenuhnya.
Aku ingin | aku harap |  dan akan membuat buku yang secara khusus ku persembahkan dari himpunan tulisan seluruh putra putrimu untuk seluruh abi umi,  yang telah melahirkan generasi yang dinanti itu | mereka putra putrinya yang didoakan siang dan malam untuk mampu melanjutkan yang sudah mereka mulai. Aku bersungguh sungguh ingin menghadiahkan itu kepada seluruh abi umi, amah ami, ustadz dan ustadzah kami semua yang telah melahirkan kami dari asuhan tarbiyah sejak dalam kandungan. Jazakumullah khairan katsir
27 September 2013
=======================================================
Entah ya, rasanya campur aduk banget bacanya...
Of course aku sangat bangga dan bahagia terlahir sebagai anak kader. Tapi ya gitu, entah bagaimana selama ini aku begitu nakal dan betingkah yang nggak nggak. Jadi ingat gimana halaqoh jaman aku SD, apapun yang dibicarakan sama amahnya cuma masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Bahkan sampai sekarang masih ababil gini. Punya pemikiran sendiri, susah diatur, ditegur, apalagi kalau pakai nada tinggi. Meledak-ledak sampai yang lihat bingung. Padahal aku juga tau betapa besar harapan yang ditumpukan ummi abi di pundak-pundak kecil kami. Dan sebenarnya aku juga punya cita-cita besar yang sering kali dalam pencapaiannya susah untuk dikomunikasikan, jadi lebih sering disalahpahaminya dari pada enggak. Percayalah, aku insyaAllah bisa jadi seperti apa yang kalian harapkan, mauku sih lebih. hehe. 

Aku percaya, cita-cita besar kaum muslimin semua pasti akan terwujud.
Sudah janji Allah kan?
Meski sekarang masih dalam barisan yang terpisah-pisah, dalam wajihah yang berrupa-rupa, juga dengan pengambilan metode yang berbeda. Aku percaya kelak semuanya perlahan akan bersatupaham, bahwa pada dasarnya tujuan kita adalah sama.

_Islam is the way of life_
ini capture dari blog miruna : http://mirunasays.blogspot.com/2015/06/jadi-harus-hormati-siapa.html

Bismillah!

Minggu, 26 Januari 2014

Perbanyak Sahabat-sahabat mukminmu!

Copas dari salah satu group fb :




Imam syafi'i berkata:
"Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali"

Sahabatku fillah luangkanlah waktu sejenak untuk membaca hadits yg mulia berikut ini...

Diriwayatkan bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan Sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia.
Mereka bertanya tentang Sahabat-sahabatnya kepada اللّهُ سبحانه و تعالى ..
"Yaa Rabb...Kami tidak melihat Sahabat2 kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami..."
Maka اللّهُ سبحانه و تعالى berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat2mu yg di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Perbanyaklah Sahabat2 mu'minmu, karena mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabat nya sambil menangis:
"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اللّهُ تعالى tentang aku:
"Wahai Rabb Kami...
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami ttg ENGKAU..
Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu"

Sahahabatku fillah
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu ttg اللّهُ تعالى .. Agar aku dapat besertamu kelak di Syurga & Ridho-Nya..

Yaa Rabb...
Aku Memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku Sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di Akhirat dengan-Mu...

آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

--
Wahai sahabatku sekalian..

Jika kalian tidak menemukan diriku di Syurga, sudilah kiranya sahabat sekalian memanggil namaku dan bertanya pada Allah tentang diriku, dan semoga Allah ridha menyelamatkan diriku dan keluargaku dari siksa api neraka..
.
Ana uhibbukum fillah... ♥

Kamis, 26 Desember 2013

reblog: Toleransi Tak Sebatas Selamat Hari Raya

Oleh: Darwis Tere Liye


Saya akan sampaikan maksud dan tujuan ini dengan cerita saja. Seolah fiksi, tapi bentuk kongkretnya bahkan lebih cemerlang dibanding ini. Amat sangat cemerlang malah, saat akhlak yang sungguh baik, terpancar begitu indah dari seorang muslim, tanpa harus merusak akidahnya. Karena sejatinya, ketika seorang muslim mempunyai akhlak tersebut, dia pasti akan membuat nyaman siapapun di sekitarnya.


Kita sebut saja Bambang. Orangnya biasa saja. Rajin shalat ke masjid, bergaul dengan tetangga, suka membantu, dan amat menyantuni fakir miskin serta anak yatim. Dia dikenal oleh banyak orang, satu kampung hafal dengan Pak Bambang ini. Terlebih kampung itu dihuni oleh warga heterogen. Beragam agama, banyak suku bangsa, kebiasaan, tumplek jadi satu.


Saat tetangga sebelah rumahnya, Pak Sihombing, asli Batak, hendak pergi ke gereja di suatu hari Minggu, mobil tetangganya ini malah mogok, tidak bisa dibawa, Pak Bambang dengan senang hati meminjamkan mobilnya, "Silahkan dipakai." Tersenyum tulus. Toh, seharian minggu itu keluarga Pak Bambang hanya kumpul di rumah. Saat tetangga lain rumahnya kena musibah, kebakaran, Pak Bambang tidak perlu dua kali berpikir memberikan bantuan, membuka pintunya untuk menampung, padahak jelas-jelas tetangganya ini Hindu. Pak Bambang menyantuni anak anak yatim piatu, tidak perlu bertanya ini agamanya apa. Bahkan saat sebuah kampung yg dekat dgn kampung mereka kena musibah, banjir bandang, meskipun sekampung itu Kristen, ada gereja yang rusak, Pak Bambang tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu mengirimkan sembako, dan sebagainya.


Tapi seumur-umur, tetangganya tahu persis Pak Bambang tidak akan pernah mengucapkan 'selamat natal', 'selamat waisak', dan selamat lainnya kepada tetangganya yang berbeda agama. Tidak akan. Lah, tega sekali pak Bambang ini? Apakah dia ekstrem kanan hingga tidak mau hanya sekadar bilang kalimat itu? Maka tanyakanlah pada tetangganya yang berbeda agama. Tidak terbersit sekalipun mereka menganggap Pak Bambang ini ekstrem. Yang ada, jelas sekali Pak Bambang ini tetangga yang baik, nyaman, dan selalu menghormati mereka.


Kita tanyakan ke Pak Bambang kenapa dia tidak pernah bilang 'selamat natal'? Maka jawabannya sederhana: 'ada batas yang tidak bisa dilanggar dari akidah'. Jawaban simpel yang menjelaskan banyak hal. Itu benar, membantu tetangganya, meminjami mobil, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Membantu tetangga menumpang, menyantuni anak2 yatim piatu berbeda agama, tidak ada sangkut pautnya dengan akidah, keyakinan. Termasuk membantu satu kampung yang seluruhnya Kristen, mengirimkan makanan karena mereka terkena musibah, itu bukan urusan akidah, melainkan SUNGGUH cerminan ahklak prima dari seorang muslim, dan diajarkan langsung oleh Nabi kita, tidak pandang bulu. Tapi mengucapkan kalimat 'selamat natal', menghadiri acara misa, natalan, dsbgnya, itu jelas ada hubungannya dengan akidah, keyakinan.


Tapi itu kan hanya sepotong kalimat saja? Dari sisi mana itu akan merusak akidah? Kenapa Pak Bambang serius sekali. Maka, duhai orang orang yang masih saja meributkan masalah ini, kalau itu hanya sepotong kalimat saja, kenapa pula kalian ribut? Itu hak mutlak dari Pak Bambang untuk bilang atau tidak, dan kalaupun dia tidak bilang, bukan berarti dia jahat, bukan berarti dia berbahaya, punya paham ekstrem. Lihatlah dengan mata kepala, toleransi yang dimiliki oleh Pak Bambang melebihi hanya sekadar kata kata. Karena boleh jadi, orang2 yang ribut dengan kalimat ini, ya hanya ribut pada level kalimat saja. Pernah meminjamkan mobil ke tetangganya? Pernah memberikan rumah sbg tempat menumpang sementara bagi tetangga Hindu? Pernah tidak? Pak Bambang simply meyakini, dia takut kalau dia mengucapkan kalimat tersebut ke tetangganya, maka terbersit di hatinya sesuatu yang bisa merusak akidahnya. Tapi bukankah Pak Bambang bisa memastikan tidak bermaksud demikian? Tidak bermaksud ikut meyakini perayaan hari besar agama lain tersebut? Itu benar, tapi demi kehati-hatian, dia memilih untuk tidak melakukannya. Dan semua orang seharusnya menghormati pilihannya, bukan justeru berpasangka yang tidak-tidak.


Diskusi ini selalu berulang ulang setiap tahun. Dan entah sampai kapan akan dipahami banyak orang. Saya pribadi, tidak akan bilang kalimat selamat natal, selamat hari raya agama ke teman2 pemeluk agama lain–karena eh karena, duh, saya saja yang muslim nggak pernah bilang selamat hari ulang tahun Nabi Muhammad, selamat tahun baru hijriyah, selamat isra' mi'raj, atau selamat2 lainnya ke banyak orang, sesama muslim. Saya tidak akan mengada adakan hal baru, dan tidak akan mengikut ikut trend yang ada. Yang ada dan jelas ada saja saya keteteran menjalankannya. Tetapi secara pribadi, saya akan meneladani Pak Bambang. Toleransi, menghormati agama lain 'beyond' kata kata, kalimat, dan itu lebih kongkret memunculkan rasa nyaman bagi siapapun.


Karena saya yakin, mengeluarkan akhlak prima sebagai seorang muslim, otomatis mengeluarkan toleransi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.


*Saya minta maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan pemahaman ini. Dan boleh jadi pendapat saya keliru. Saya sudah berusaha menuliskannya hati2. Nah, jika kalian membutuhkan pondasi yg lebih kokoh, silahkan merujuk pada penjelasan Buya Hamka soal ini, di search, di googling. Beliau adalah ahli tafsir, dan dalam banyak kesempatan, saya mendengarkan penjelasannya.


Sumber:
http://diniehz.blogspot.com/

Jumat, 28 Desember 2012

Keep our dreams alive

Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. 
Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri..

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. 
Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.. 
Keep our dreams alive, and we will survive..
[5cm]” 
― Donny Dhirgantoro


Selasa, 25 Desember 2012

Bukan ukhuwah kita yang rombeng


  Karena saat ikatan melemah, 
                       saat keakraban kita merapuh...
                                Saat salam terasa menyakitkan, 
       saat kebersamaan serasa siksaan, 
                                           saat pemberian bagai bara api, 
 atau saat kebaikan justru melukai....

Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita, hanya iman-iman kita yang sedang sakit atau mengerdil, mungkin dua-duanya... Mungkin kau saja...
Tentu terlebih sering imankulah yang compang-camping.

(Salim A. Fillah' quotes)

Sabtu, 01 Desember 2012

Cintaku berlabuh di Gaza


Hanya lima hari..
Ya… hanya lima hari aku singgah di bumimu
Tapi serasa aku sudah menjadi bagian darimu
Seakan aku lahir dan besar bersamamu
Bermain berlari dan bekerja di atas tanahmu

Saat kakiku akan menginjak tanah gaza
Aku mengira akan disambut wajah duka
Guratan luka dan penampilan nestapa
Tangan meminta serta mimik menghiba

Ternyata tidak
Aku tlah salah sangka dan salah duga
Engkau sambut kami dengan penuh suka
Wajah ceria dan hati gembira
Seolah kami malaikat yang turun dari sorga

Gaza…
Pertama kali aku shalat shubuh di masjidmu
Aku berdecak kagum atas ramainya jamaah di situ
Sekaligus tertunduk malu atas diriku
Karena masjid-masjid di negeriku tidak begitu

Ketika aku shalat zuhur berjamaah
Di masjid ‘Umary nan tertua dalam sejarah
Aku kira itu adalah hari jumat yang penuh berkah
Ternyata memang mereka sudah biasa shalat berjamaah

Gaza…
Walaupun roket-roket Israel sering menghantammu
Pesawat-pesawat siluman datang tak menentu
Panglima-panglima utamamu syahid satu-persatu
Namun perjuanganmu justru makin menggebu

Seorang lelaki tua datang kepadaku bertanya
Hai anak muda.. anda dari Indonesia?
Bagaimanakah pemuda-pemudi di sana?
Apakah jihad bersemayam di dada-dada mereka?

Gaza…
Engkau punya anak-anak muda dan orang tua
Yang jihad fiisabiilillah adalah jalan hidupnya
Mati syahid adalah cita-cita tertingginya
Sorga Firdaus adalah kampung abadinya

Izzuddin Al Qassam, Ahmad yasin sebagai Panglima
Abdul Aziz Rantisi, Shalah syahatah yang mulia
Syekh Shiyam dan Ahmad Ja’bary yang perkasa
Adalah putra-putra terbaikmu yang tlah bergelar syuhada

Khalid Misy’al, Musa Abu Marzuq dan Ismail Haniya
Muhammad Dhaif, Mahmud Zhahar dan Abu Ubaida
Abu Yusuf, Izzuddin Dahnun dan selain mereka
Masih banyak lagi dan terus berjanji setia
Gaza… cintaku tlah berlabuh di sana…


(Padang, 22 Nov 2012, Hari kemenangan Gaza)
Puisi : Ust. H. Irsyad Syafar Lc, MA (Ketua KNRP Sumbar, Utusan Penyerahan Bantuan Ke Gaza, Alumnus Timur Tengah, Ex Ketua PPI Mesir)







“Mengapa mereka begitu semangat menghafalkan Al Quran?”

“Karena syarat untuk menyertai Brigade Izzudin Al Qassam ialah harus Hafal Al-Quran 30 Juz. Anak-anak ini berlomba-lomba ingin menyertai mereka dan syahid karena-Nya”

Kita..???

********
Simak kisah ini...











Kamis, 08 November 2012

Ikhlas vs Kepercayaan

Gadis itu mengeluarkan semua uangnya yang berjumlah Rp 20.000,00 yang terdiri atas pecahan 10rb-an, 5 rb, dan sisanya seribu. pinginnya sih dimasukin dompet. Tapi, karena dompetnya masih ada di dalam tas, ia pun menunduk lagi, mengaduk-aduk isi tas, mencari dompetnya.

Setelah dompetnya ketemu, ia kaget, "Lhoh, uang Rp 10.000-ku ke mana? AKu yakin banget tadi ngelihat ada uang warna ungu itu..." 

Wajahnya pucat. Ia bingung. Hari Senin masih 4 hari lagi. Tinggal itulah sisa uangnya. Ia langsung terbayang bensin dan pulsanya yang habis. "Pasti nggak boleh minta lagi,"

tapi ia terus berpositif thinking.

Di sebelahnya, duduklah sahabatnya. Yang juga ikutan panik melihatnya bingung. "Kamu cari apa, sih?"

"Uangku 10 rb... Duh, di mana ya? Perasaan, aku tadi naruh uang Rp 10.000, 00 di sini..." kata gadis itu sambil mengecek ke sekitar tempat duduk dan tasnya. Nihil.

Hatinya berkata, ya udahlah, pasrahkan saja... Pasti ada ganti yang lebih baik, kok.

Tiba-tiba, sahabatnya bertanya, "Kamu, percaya sama orang nggak?"

"Ya, tergantung sih. Kalo aku udah kenal banget dan tahu watak orang itu seperti apa, atau aku nggak kenal orang itu sama sekali, aku nggak percaya2 amat sama dia. Tapi kalo orang itu biasa aja, dan kenalnya dengan aku pun sebatas kenal, aku percaya."

Sahabatnya itu, tersenyum2 sendiri, "Kamu biasa positive thinking sama orang, nggak?"

"Tergantung, sih. Kalo lagi mood baik, every person is kind. Kalo lagi jelek, ugh, bisa jadi jelek semuanya."

"Terus, sekarang, moodmu apa?" tambah lama, sahabatnya itu makin aneh pertanyaannya.

"Setengah-setengah," bingung lebih tepatnya.

"Hahahahahaha. Kasihan aku sama kamu. Nih, kukembaliin uangnya. Kenapa nggak curiga sama aku sih, kan cuma aku yang di sebelahmu..."

kata sahabatnya itu sambil mengipas-ngipaskan uang 10 ribu ke hadapannya.


Moral value: Bahkan, sahabat pun bisa keterlaluan, tapi tetaplah positive thinking. ^_^




Wrote by : Anisa Rochma Sari / Smalabaya
(muup ye kagak ijin '_'v)

Minggu, 17 Juni 2012

Ikhwan Lugu dan Akhwat Berjilbab Biru






ni cerita cinta seorang ikhwan yang masih lugu…
Baru aktif ngaji beberapa pekan yang lalu..
Disebuah ta’lim dia bertemu dengan seorang akhwat berjilbab biru..
Hati sang ikhwan langsung berdesir tak menentu..
Pulang ke kos langsung merenungkan kejadian itu…
Ah…dia pun bertanya pada diri sambil tangannya menopang dagu..
Apakah yang sedang terjadi denganku?
Mengapa bayang sang akhwat tak jua mau berlalu?


Di tempat lain sang akhwat pun ternyata begitu…
Tiba-tiba dia merasakan sesuatu..
Setelah pertemuan tak sengaja dengan seorang ikhwan di ta’lim sore itu…
Seketika ada suara hati yang menyeru…
Duhai ukhti…kau sedang jatuh cinta, ayo ngaku!!


Kedua aktivis ini pun kembali bertemu..
Dengan hati-hati si ikhwan menghampiri sembari menyerahkan sesuatu..
Ohh…ternyata itu adalah surat bersampul abu-abu…
Si akhwat pun menerima dengan hati ragu…
Pulang ke kost si akhwat langsung membuka surat itu dengan rasa yang menggebu..
Seketika wajahnya merah tersipu…
Si ikhwan ternyata mengungkapkan cinta langsung tanpa bumbu rayu…
Sang akhwat hanya bisa terpaku…


Beberapa hari pun berlalu…
Si ikhwan telah gelisah menunggu..
Menanti jawaban dari sang akhwat yang telah begitu ia rindu…
Akhirnya pujaan hatinya datang dengan wajah sendu…
Sejenak pandangan mereka beradu…
Namun sesegera mungkin si akhwat menunduk kaku…
Perasaan mereka pun bercampur aduk jadi satu…


Dengan lirih sang akhwat mengaku..
Dia pun telah memiliki rasa pada ikhwan itu…
Namun…tiba-tiba nuraninya segera menyeru…
Hentikan! Tak tahukah kau bahwa rasa itu adalah godaan bagimu?
Tidakkah kau sadar bahwa kau telah membuat Rabb-mu cemburu?
Hingga akhirnya sang akhwat terduduk lesu…
Maafkan aku ya akhi..aku tak bisa menerima cintamu…
Setidaknya untuk saat ini aku belum siap untuk itu…
Sang ikhwan pun hanya bisa menerima dengan diam membisu..
Ya…dia sadar bahwa apa yang dilakukannya telah keliru…
Akhirnya mereka pun berpisah dan menjadikan itu sebagai cerita semu…
Namun indah karena mereka telah saling menjaga untuk cinta yang satu…
Cinta Allah…cinta yang maha sempurna itu…


Di lokasi lain…sesosok makhluk hanya bisa termangu sembari menggerutu..
Ohh..ternyata dia syaitan si makhluk pengganggu..
Uh…usahaku kenapa sih gagal melulu?? Kata syaitan sambil berlalu…
Malaikat yang ada disampingnya hanya bisa tersenyum haru…
Sembari berkata pada syaitan : KASIAN DEH LU !!


copas dari http://parodikhwan.tumblr.com/

hehehehe, lutuu..makanya ku ingin berbagi denganmu... :D


Sabtu, 26 Mei 2012

Catatan Ukhuwah Bidadari


Saat aku terjatuh engkau senantiasa berusaha membuatku bangkit
Saat aku tersenyum, engkau pun tersenyum dengan indah
Saat aku bersedih, engkau senantiasa menghiburku
Dan saat aku melakukan kesalahan, engkau senantiasa menegurku…
Tidak mengenal waktu, tempat, kapan dan dimana
Engkau selalu siap siaga membantuku
Engkau selalu membantuku disaat aku kesulitan
Engkau selalu ada saat aku membutuhkanmu

Saat diri ini futur, dering smsmu di sepertiga malam menjadi obat penentram jiwa..
Saat salah satu hati benar2 membeku, kata ‘Assalamualaikum’ menjadi penyejuk hati, itu katamu..
Saat suatu masalah memuncak, saling diam ternyata membawa muhasabah diri..
Karena saling diam tidak selamanya menunjukkan kebencian..

Dan jika ingin menangis, menangislah..
Menangis adalah ungkapan jiwa dari hati yg sekarat..
Menangis tidak selamanya bahwa kita cengeng dan lemah
Menangis adalah adalah salah satu terapi mujarab bahwa kita masih punya hati..

Ukhtifillah..
Kutahu diriku dan dirimu tidak lahir dari rahim ibu yang sama
Namun, persaudaraan yang kita jalin, sungguh melebihi dari persaudaraan kandung…
Engkau menjalin persaudaraan denganku bukan karena melihat pintar atau bodohnya aku
Bukan karena melihat cantik dan jeleknya diriku
bukan karena melihat kaya atau miskinnya keluargaku..
Tapi, engkau dan diriku bersaudara hanya karena satu alasan….
Yaa… Fillah..karena Allah…
Dalam jalinan ukhuwah seiman dan seakidah..

Ukhtifillah…
Kuingat diriku yang penuh kekurangan ini..
Saat aku berdiri dihadapanmu dengan segudang masalah yang kuhadapi..
Kutampakkan wajah kusamku di hadapanmu..
Tapi, dirimu begitu sabar menghadapiku…
Wajah masamku tak membuatmu berhenti untuk tersenyum padaku dan mengatakan:
“ukhti, senyum dulu dong…”
Walaupun bibir ini teramat sulit untuk tersenyum di saat itu
Tapi hati ini begitu bahagia..bahagia karena engkau senantiasa menghiburku..

Ukhtifillah…
Jika boleh diri ini meminta…
Aku mohon kepadamu..
Jangan pernah menjauh dariku
Tetaplah bersamaku dalam menghadapi ujian di jalan dakwah
Jangan pernah berhenti menasehatiku jika berbuat kesalahan
Pun janganlah engkau marah jika aku menasehatimu
Semua kita lakukan demi perbaikan diri

Untuk menjadi muslimah yang benar2 kaffah dan tertarbiyah
Dan maafkan diriku jika pernah membuatmu terluka…

Ukhtifillah…
Ku ingin berada di mimbar cahaya kelak bersamamu…
Ku ingin meraih syurga dengan dirimu…bertahta diatas berlian..
Karena sungguh..ku mencintaimu karena alloh….

Ukhti, Masih ingatkah sabda Rasulullah: " Pada hari kiamat kelak akan ada suatu kaum yg wajahnya bersinar bagai purnama. Dia bertahta diatas mimbar-mimbar bertabur berlian yg gemerlap. Orang2pun iri padanya. Padahal dia bukan Nabi dan bukan pula orang yg mati syahid..".

Seorang sahabat bertanya," siapakah orang itu ya Rasulullah..?"
Rasulullah menjawab," Yaitu orang2 yang sewaktu didunia saling mencintai karena Allah. Mereka terdiri dari beragam suku dan bangsa. Mereka bertemu karenaNYA dan berpisah juga karenaNYA ( HR.Tabrani dan dishahihkan oleh Muslim )

Semoga qt senantiasa saling melengkapi dan berlomba berlari mengejar keridhoanNya bersama.. :))

from : mbak Nuzulida Alfisyahr

Minggu, 29 April 2012

Sedekah

Bismillahirahmaanirahiim


pernahkah kamu mendengar kisah yang begitu mengetukmu..?
baru saja, kujumpai kisah.. yang sekali lagi begitu menyentuh hati~

dan semoga kisah ini dapat menyentuh hati banyak orang dan membawa p.e.r.u.b.a.h.a.n yang lebih baik bagi diri ini, dan orang lain~

inilah kisah sang kakek tua, penjual amplop di ITB~
Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB, Rinaldi Munir.

adalah kisah tentang seorang kakek, yg tidak lelah dan gentar berjuang untuk hidup, dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di masjid salman itb.

sahabat, zaman sekarang..
amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan,
tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya
dan pulang dengan tangan hampa,

mari kita dengar, kisah sang penulis

"setiap menuju ke masjid salman itb untuk shalat jumat, saya selalu melihat seorang kakek tua yg duduk terpekur, di depan dagangannya. hmm.. taukah apa yang ia jual?

ia menjual kertas amplop yg sudah dibungkus di dalam plastik, sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yg memenuhi pasar kaget di seputaran jalan ganesha setiap jumat.

pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, dvd bajakan, barang mainan anak, sepatu, dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yg tdk terlalu dibutuhkan pada zaman serba elektronis ini.

masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun kakek itu tetap menjual amplop. mungkin kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yg serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yg tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba.
siapa sih yang mau membeli amplopnya itu?
tidak satupun orang yg lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid salman seolah tidak mempedulikan kehadiran kakek tua itu.

kemarin ketika hendak shalat jumat di salman, saya melihat kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur, saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkannya.

yah, sekedar ingin membantu kakek itu melariskan dagangannya.

seusai shalat jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu.

“seribu”, jawabnya dengan suara lirih.

oh tuhan, harga sebungkus amplop yg isinnya sepuluh lembar itu, hanya seribu rupiah? uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala, pada pedagang gorengan di dekatnya! uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan, kala mendengar harga yang sangat murah itu.

“saya beli ya pak, sepuluh bungkus" kata saya

kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar.
saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop?
kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir.
tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp750.

“kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya.

jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si kakek tua.

Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dg menaikkan harga jual, sehingga keuntungan berlipat-lipat, kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yg tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja, keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan.

siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang?
dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar, sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis.

saya segera bergegas pergi meninggalkannya, karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.
sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook,

yang bunyinya begini:
“kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yg tak laku-laku, ibu-ibu tua yg duduk tepekur di depan warungnya yg selalu sepi"
carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal, dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”

si kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku.

cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka, adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka, meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal dari pada harga di mal dan toko.

tetapi dg membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya,
karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

dalam pandangan saya kakek tua itu lebih terhormat, daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. para pengemis itu mengerahkan anak-anak, untuk memancing iba para pejalan kaki.

tetapi si kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yg keuntungannya tidak seberapa,

di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yg saya beli tadi, mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu, tetapi uang sepuluh ribu yg saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si kakek tua.

kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya.

mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini.
tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

mari kita bersedekah lebih banyak, kepada orang-orang yg diberikan kemampuan ekonomi lemah. 
Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.
semoga bermanfaat."

subhanallah walhamdulillah~
wallahualam bishowab,
wassalamualaykum warahmatullah wabarakatuh,
barakallahu fiikum

~*aisyah asyafiyah*~


Diambil dari : 
notes mbak @Almira Qatrunnada Qurratu'ain 
dari mbak @ Aisyah Asyafiyah 

Minggu, 19 Februari 2012

Dakwah itu panjang, Sayang

.:: Kepada kalian, saudara-saudariku, adik-adikku, yang terlahir dari rahim mujahidah dakwah. yang dibina mula-mula di madrasah cinta oleh dua aktivis dakwah yang dulunya juga pernah melalui masa-masa kalian hari ini. kini saatnya kalian meneruskan langkah mulia mereka ::.

-juga bagi kalian yang telah Allah limpahkan rahmat mahabesar untuk berada di jalan ini bukan melalu perantara orang tua. semoga dari rumah yang akan kalian bangun nanti, semakin bertambahan madrasah-madrasah peradaban yang akan mencerahkan manusia, dunia, dan isinya.-

-----------------------------------------------------------------------------------------

Dakwah itu Panjang, Sayang.


Puluhan tahun yang lalu
Aku mengenal jalan dakwah ini
Dengan segala asa, secercah harapan kuraih
Dengan bismillah, segala rintang kuterjang
Dengan bismillah, aku iyakan ketika laki-laki shalih mengucap ijab qabul untukku
Bahkan ketika ijasah dokter masih jauuuh tergantung di angan-angan

Dakwah itu panjang Sayang ……
Hari demi hari kami rajut kehagiaan
Hari demi hari semakin kurasa gerak jantung dan tendangan kakimu di perutku
Hari demi hari semakin kuat mual dan muntahku
Hari demi hari aku kuatkan diriku
Kutolak cemooh semua orang, kasak kusuk semua orang, tuh mahasiswi kedokteran sudah punya anak, nrecel lagi,huh mau jadi apa dia
Kuteriakkan dengan pada mereka : kulahirkan karunia Allah buat dakwah, kulahirkan anak generasi Qur’an, kulahirkan anak penerus estafet asaku, agar tidak ada lagi keputus asaan
Karena engkau telah kunadzarkan untuk dakwah sejak dalam kandungan
Karena kamulah Sayang……aku kuat sampai sekarang

Dakwah itu panjang Sayang
Sekarang belasan tahun berlalu
Kusadari betapa semakin besar fitnah menghadang asaku
Semua mengepungku…..karir, kesibukan, internet, narkoba, pergaulan bebas sahabat-sahabatmu dan itu membuat peranku sebagai ibumu semakin tersisih
Engkau sudah bisa menolak ketika kuajak acara dakwah
Engkau sudah pintar dengan segala alasan untuk tidak dekat dengan dakwah
Sementara… rambutku semakin memutih, tulangku semakin linu, mataku semakin rabun, tenagaku semakin menipis……

Sementara kita semakin malu menyebut sebagai orang Indonesia
Yang menjadi budak di negeri orang, tapi menjadi koruptor di negeri sendiri
Wahai….masih adakah asa kusampirkan pada pundakmu Anakku Sayang
Kudengar bisikan malaikat untukku dan untukmu : Dakwah itu panjang Sayang
Wala taiasu…..jangan putus asa, itu firman Allah untuk kita….

Dengan tarbiyah akan kuraih asaku kembali
Dengan liqo-liqo rutinmu kutitipkan harapanku kembali
Dengan bimbingan murobi engkau melihat jendela dunia sebenarnya
Bahwa bangsamu, negaramu, Indonesiamu, sedang terpuruk jatuh…..

Engkaulah semangat itu
Engkaulah penyelamat bangsa
Engkaulah penerus estafet dakwah ini
Ijinkan dengan semakin keriputnya kulitku
Kutitipkan, kuamanahkan semua ini padamu…..

Dakwah itu panjang Sayang…..
Tidak hanya panjang, tapi juga berliku…. dan terjal berbatu
Sepanjang umur kami sampai mau berakhirpun….. kemenangan itu juga belum teraih
Engkaulah harapan itu….
Peganglah dakwah, perjuangkan dakwah, niscaya hidupmu akan mulia
Tinggikan dakwah, muliakan dakwah, niscaya jannah menunggumu
Sungguh….. harapan itu hanya ada padamu

----------------------------------------------------------------------------------------

Puisi yang dibacakan dalam acara yang diperuntukkan bagi para Wader (wanak kader) :) 

Rabu, 30 November 2011

Di Antara Langit dan Tanah


Sekarang ini kalau kuperhatikan, dibandingkan dengan orang yang suka mengagungkan diri lebih banyak orang yang suka merendah-rendahkan diri. Masalahnya, kerendahan diri itu kadang justru lebih menyayat hati pendengar lho.

Misalnya saja dialog di bawah ini..
Albi: “Aduuh.. sedih banget nih..”
Domar: “Lho Albi kamu kenapa?”
Albi: “Nilai UTS-ku.. parah banget.. nilaiku turun..”
Domar: “Ooh.. sabar ya. Emangnya kamu dapat berapa sih?”
Albi: “Kuis yang terakhir dapat 100, nilai UTS-ku 85. Sedih banget Mar :(“
Domar, dalam hati: “WOY WOYY! Nilaiku aja 77 sama 70! *%^&(^&$”
*eh, kenapa Albi dan Domar? :))


Yah, tiap orang memang punya need of achievement yang berbeda-beda. Mungkin si Albi memang nggak berniat sombong, mungkin dia sungguhan merasa sedih bahkan tertekan. Cuma satu yang kurang, mungkin dia perlu meningkatkan kepekaannya :))


Di atas langit masih ada langit. Karena itu janganlah cepat puas. Halangan terbesar untuk menjadi terbaik adalah menjadi sekedar baik.
Eh tunggu.. di bawah tanah juga masih ada tanah lho. Jadi jangan cepat kecewa juga dengan hasil yang didapat. Apalagi mengumbar rasa itu pada orang-orang di sekitar kita.



Selamat UAS bagi yang mau menjalankan. Bagaimanapun hasil UAS-mu, ikhlaskan ya! Paling tidak, nggak usahlah mengeluh di depan teman-temanmu :))


Just Intermezzo :) from Out of Cave > Afina Raida Vinci ~_^


Cukup melegakan dan menghibur, mengingat besok pagi aku benar-benar harus off dari dunia maya karena UAS. Besok mapelnya B.Indonesia sama Mulok (Wirausaha). Semoga semuanya di permudah untukku. Aamiin.

Harus semangat belajar dan jangan pernah menoleh ke belakang sampai titik darah penghabisan. Atau akan menyesal seperti waktu ujian lari olah raga minggu lalu *upss :( Yang penting jujur dalam proses mendapatkan nilai itu kan? so... Untuk hasil dari ikhtiar dan tawakkal kita, biarlah Allah yang menentukan semuanya.


Ganbatte!! Garimbasu kudasai !!!

*khususnya untuk teman-teman yang besok mau menghadapi ujian. Ayooo kita berjuang bersamaa :D
Cemunguuuuuuudh \(^O^)/



Sabtu, 29 Oktober 2011

Kriteria Akhwat Genit


Hai para akhwat... (mengingat yang menulis ini seorang perempuan juga), mari kita mulai untuk evaluasi diri dan saatnya menjelma menjadi bidadari-bidadari yang menawan di Surga.

Seperti yang kita tahu, cewek itu cenderung suka cari perhatian baik dari lawan jenis maupun tidak. Bahkan seorang akhwat yang selalu berperilaku mengagumkan pun dapat secara tidak sengaja untuk melakukannya. 
.                                                                                                       .

Ini nih sebagian ciri-ciri yang dapat kami jelaskan :

1. Berpakaian yang mengundang pandangan
Mungkin ia memakai jilbab lebar, gamis, namun jilbab dan busana muslimah yang digunakannya dibuat sedemikian rupa agar menggoda pandangan para ikhwan. Warna yang mencolok, renda-renda, atau aksesoris lain yang membuat para pria jadi terpancing untuk memandang.


2. Senang dilihat
Akhwat genit, senang sekali bila banyak dilihat oleh para ikhwan. Maka ia pun sering tampil di depan umum, sering mencari-cari perhatian para ikhwan, sering membuat sensasi-sensasi yang memancing perhatian para ikhwan dan suka berjalan melewati jalan yang terdapat para ikhwan berkumpul.


3. Kata-kata mesra yang ‘Islami’
Seringkali akhwat-akhwat genit melontarkan ‘kata-kata mesra’ kepada para ikhwan. Tentu saja kata-kata mesra mereka berbeda dengan gayanya orang berpacaran, namun mereka menggunakan gaya bahasa Islami.


“Jazakalloh yach akhi”
“Akh, antum bisa saja dech”
“Pak, jangan sampai telat makan lho, sesungguhnya Alloh menyukai hamba-Nya yang qowi”
“Kaifa haluka akhi, minta tausiah dunks…”
“Akh, besok syuro jam 9, jangan mpe telat lhoo..”


4. SMS tidak penting
Biasanya akhwat-akhwat genit banyak beraksi lewat SMS. Karena aman, tidak ketahuan orang lain, bisa langsung dihapus. Ia sering SMS tidak penting, menanyakan kabar, mengecek shalat malam sang ikhwan, mengecek shaum sunnah, atau SMS hanya untuk mengatakan “Afwan…” atau “Jazakalloh”


5. Banyak bercanda
Akhwat genit banyak bercanda dengan para ikhwan. Mereka pun saling tertawa tanpa takut terkena fitnah hati. Betapa banyak fitnah hati, VMJ, yang hanya berawal dari sebuah canda-mencandai.


6. Tidak khawatir berikhtilat
Ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindari khalwat dan ikhtilat. Namun seharusnya saat berada pada kondisi tersebut seorang mu’min yang takut kepada Allah sepatutnya memiliki rasa khawatir berlama-lama di dalamnya. Bukan malah enjoy dan menikmatinya. Demikian si akhwat genit. Saat terjadi ihktilat akhwat genit tidak khawatir. Bukannya ingin cepat-cepat keluar dari kondisi tersebut, akhwat genit malah menikmatinya, berlama-lama, dan malah bercanda-ria dengan pada ikhwan laki-laki di sana.


7. Berbicara dengan nada
Maksudnya berbicara dengan intonasi kata yang bernada, mendayu, atau agak mendesah, atau dengan gaya agak kekanak-kanakan, atau dengan gaya manja, semua gaya bicara seperti ini dapat menimbulkan ‘bekas’ pada hati laki-laki yang mendengarnya. Dan ketahuilah wahai muslimah, hal ini dilarang oleh syariat. Allah SWT berfirman yang artinya: “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32) Para ulama meng-qiyaskan ‘merendahkan suara’ untuk semua gaya bicara yang juga dapat menimbulkan penyakit hati pada lelaki yang mendengarnya.


Maka mari sama-sama kita perbaiki diri. Kita tata lagi pergaulan kita dengan lawan jenis. Karena inilah yang telah diperintahkan oleh syariat. Dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu kebaikan. Dan tidaklah Allah melarang sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu keburukan. Dan sesungguhnya Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada ummatnya bahwa fitnah (cobaan) terbesar bagi kaum laki-laki adalah cobaan syahwat, yaitu yang berasal dari wanita: ”Tidaklah ada fitnah sepeninggalanku yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki selain fitnah wanita. Dan sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita.” (HR. Muslim)


"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al Hadiid: 22)


8. Jilbab Berponi Dan Jilbab Setengah Tiang
Mungkin temen-temen pada penasaran apaan sih jilbab berponi? itu tuh orang yang pake kerudung tapi ga pake daleman kerudung dan poninya dikeluarin, (gambarnya ga ada sih, lagian ntar malah bikin dosa para ikhwan Nyengir) malah ada yg poninya di cat merah jadi persis kaya anak kecil yg hobby maen layangan jd rambutnya merah, dan itu dengan sengaja diperlihatkan...


Selain itu jilbab setengah tiang, inget ga dulu aku pernah ngomong masalah celana jeans setengah tiang? nah ini ada lagi jilbab setengah tiang, jilbab yang leher dan separuh dadanya masih terlihat dan jilbab yg antara rambut (rambut bagian belakang) sama jilbabnya panjangan rambutnya jadi jilbabnya cuma nutupin setengah dari rambutnya. Dan kebanyakan rambutnya kan lurus (entah lurus asli atau hasil rebonding pake setrika) itu dia ko sekarang makin banyak ya aku liat di lingkunganku padahal udah banyak terpampang tentang kriteria busana muslimah tapi makin kesini ko malah makin banyak...
.                                                                                                       .

Meskipun aku sendiri heran bagaimana hal ini semakin banyak terjadi, tapi diriku pun beberapa kali melakukan satu atau dua poin di atas.

Astaghfirullah...

Begitu menemukan artikel ini, barulah aku sadar bagaiamana tingkahku sering masuk dalam -kriteria akhwat genit-

Semoga Allah selalu membukakan hidayahnya untuk kita semua =)

dan ini menjadi satu PR baru buatku. Cemunguutt Winaa!!


Sumber: http://jm-community.blogspot.com

Sabtu, 08 Oktober 2011

Andai Berkah yang mereka cari


(waktu lagi searching, tiba2 nemu artikel ini. miris sekali negeriku ini)

Aku sedang membaca buku ketika sebuah sms masuk ke handphoneku. Lihat **tv, sekarang! begitu isi sms yang ternyata dikirim oleh salah satu sahabatku di Surabaya. Penasaran, segera kuhidupkan televisi dan memilih saluran yang ia sebutkan. Astaghfirullloh! Ucapku beberapa detik kemudian.
Bukan satu atau dua kali, tapi berkali-kali. Setidaknya dua kali dalam seminggu, setiap Sabtu dan Minggu, stasiun tv ini menayangkan berita semacam ini. Kecurangan para pelaku usaha ( bahan ) makanan dan minuman semakin sering terjadi, membuat miris di hati.
Rekondisi. Selama ini aku mengenal istilah ini hanya untuk barang-barang elektronik, selain itu tak ada lagi. Tapi hasil investigasi reporter yang kusaksikan di televisi sore itu mengungkap fakta bahwa rekondisi bukan saja untuk barang-barang elektronik, tapi juga pada makanan. Daging rekondisi, begitu istilahnya. Astaghfirulloh!
Andai berkah yang dicari, tak mungkin orang melakukan perniagaan dengan cara-cara keji semacam ini. Menjual makanan berbahan dasar ‘sampah’, makanan yang sudah tidak layak konsumsi seperti yang terjadi pada daging rekondisi, hingga bangkai hewan seperti ayam dan berbagai produk olahannya yang ternyata berasal dari (bangkai )ayam tiren ( mati kemarin ). Astaghfirulloh!
Bukan berkah yang diutamakan, tetapi jumlah. Menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan yang besar, prinsip ekonomi yang tak bernurani. Sesungguhnya mereka tiada menipu selain diri sendiri. Bukan keuntungan yang sebenarnya mereka dapatkan tapi kerugian yang - sangat-sangat – besar. Mereka mungkin tak melihat sekarang, tapi di akhirat kelak mereka tak mungkin menutup mata. Segala kecurangan yang merugikan orang lain akan berbalik kepadanya, tanpa ia sangka sebelumnya di dunia. Nauzubillah!
Andai berkah yang dicari, tak mungkin mereka – para pelaku usaha makanan dan minuman - tega mencampurkan bahan-bahan berbahaya seperti formalin, borax dan zat pewarna pakaian pada produk-produk yang mereka hasilkan. Tak mungkin berani me reka-reka sampah, ( bahan ) makanan yang sudah tidak layak konsumsi menjadi produk baru tanpa sedikitpun merasa perlu bertanggungjawab terhadap segala resiko yang akan dialami konsumennya.
Selama ini, selalu faktor ekonomi yang dijadikan alasan pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Sulitnya mencari pekerjaan seolah-olah menjadi dasar halalnya tindakan penipuan. Menghalalkan segala cara demi mengejar sesuatu yang menurut mereka tinggi dan mulia. Padahal, sesuatu menjadi mulia itu tak bisa lepas dari niat dan tata cara mengusahakannya.
Andai berkah yang mereka cari, tak perlu kita khawatir apa yang kita beli dan konsumsi adalah makanan dan minuman berbahan dasar ‘sampah’, berpengawet dan pewarna kimia yang berbahaya. Andai berkah yang mereka cari, tentu tak selalu menjadikan jumlah sebagai yang utama. Andai berkah yang mereka cari, tentu tak akan mereka berlaku keji semacam ini, menjual sesuatu yang tak lagi layak konsumsi, seperti daging rekondisi. Astaghfirulloh!

Minggu, 21 Agustus 2011

Mau Maksiat? cukup 5 Syarat ^^V



Pada suatu masa ada seorang pemuda yang menemui Ibrahim bin Adham r.a. dan berkata, “Ya Aba Ishak! Saya ini suka melakukan dosa. Tolong dong, ada tips nggak biar saya bisa nggak maksiat lagi.”



Mendengar hal ini, Ibrahim bin Adham r.a. pun berkata, “Jika bisa memenuhi lima syarat berikut ini, kamu bebas untuk melakukan perbuatan maksiat.”
“Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?” Lelaki itu tak sabar mendengar berita gembira itu.”
“Syarat pertama,” Ujar Aba Ishak, “jika kamu ingin bermaksiat pada Allah, jangan mengkonsumsi rezeki-Nya.”
Lelaki itu bingung dan berkata, “Lha, terus saya mau makan apa? Kan semua ini adalah rezeki dari Allah.”
“Kalau begitu, apa pantas kamu makan rezeki-Nya sedang kamu melanggar perintah-Nya?”

“Oke deh, syarat keduanya apa?”
“Kalau kamu mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya.”
“Hah? Waduh. Terus aku mau tinggal di mana? Bumi dan seisinya ini kan milik Allah.”
“Ya Abdallah, mikir dong, apa kamu pantes makan rezki Allah dan nge-kos di bumi-Nya sedangkan kamu bermaksiat pada Allah.”

“Ya... iya deh. Terus syarat ketiganya apaan?”
“Kalau kamu mau bermaksiat kepada Allah, tapi juga ingin memakan rezki-Nya dan tinggal di tempat-Nya, bermaksiat-Nya di tempat yang nggak diliat-Nya aja.”
“Ya Ibrahim. Ini nasehat macam apa? Mana mungkin saya ngumpet di tempat yang tidak dilihat-Nya.”

“Nyerah deh. Syarat keempatnya apa?”
“Kalau malaikat maut datang menjemput kamu, bilangin ke dia, “nanti aja matinya. Saya masih mau tobat dan beramal saleh dulu.””
“Ya Ibrahim, mana mungkin malaikat mau nurut omongan saya.”
“Lha, kalo kamu sadar bahwa kematian nggak bisa ditunda, terus jalan apa yang bisa membuat kamu keluar dari murka Allah?”

“Ya sudah, sekarang syarat kelimanya.”
”Nanti di akherat, kalau malaikat Zabaniyah datang untuk membawa kamu ke neraka, jangan ikut sama dia.”
“Ya Aba Ishak. Mana mungkin malaikat Zabaniyah menerima keberatan saya.”
“Kalau begitu, gimana lagi supaya kamu bisa selamat dari murka Allah?”
Lelaki itu kemudian menangis. “Ya Ibrahim, cukup ... jangan kau teruskan lagi. Saya akan bertaubat nasuha kepada Allah.”

Lelaki itu menepati janji. Semenjak itu ia bertaubat dan menjalankan perintah Allah.



yang mau dpet "Free card" maksiat?

cukup 5 syarat bukan? ^^v

Sabtu, 13 Agustus 2011

Sejarah Al-Qur'anul Kariim


Sejarah Kodifikasi Al-Quran

Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan dari langit oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril a’s. Sejarah penurunannya selama 23 tahun secara berangsur-angsur telah memberi kesan yang sangat besar dalam kehidupan seluruh manusia. Di dalamnya terkandung pelbagai ilmu, hikmah dan pengajaran yang tersurat maupun tersirat.

Sebagai umat Islam, kita haruslah berpegang kepada Al-Quran dengan membaca, memahami dan mengamalkan serta menyebarluas ajarannya. Bagi mereka yang mencintai dan mendalaminya akan mengambil iktibar serta pengajaran, lalu menjadikannya sebagai panduan dalam meniti kehidupan dunia menuju akhirat yang kekal abadi.

Mushaf Al-Qur’an yang ada di tangan kita sekarang ternyata telah melalui perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang menarik untuk diketahui. Selain itu jaminan atas keotentikan Al-Qur’an langsung diberikan oleh Allah SWT yang termaktub dalam firman-Nya QS.AL Hijr -(15):9: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan kamilah yang akan menjaganya"

Al-Quran pada jaman Rasulullah SAW.

Pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara:

Pertama : al Jam'u fis Sudur
Para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah SAW menerima wahyu. Hal ini bisa dilakukan oleh mereka dengan mudah terkait dengan kultur (budaya) orang arab yang menjaga Turast (peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau cerita) dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya hafalannya.

Kedua : al Jam'u fis Suthur
Yaitu wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau berumur 40 tahun yaitu 12 tahun sebelum hijrah ke madinah. Kemudian wahyu terus menerus turun selama kurun waktu 23 tahun berikutnya dimana Rasulullah. SAW setiap kali turun wahyu kepadanya selalu membacakannya kepada para sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya sembari melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis beliau karena khawatir akan bercampur dengan Al-Qur’an. Rasul SAW bersabda  "Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al-Qur’an, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya " (Hadis dikeluarkan oleh Muslim (pada Bab Zuhud hal 8) dan Ahmad (hal 1).

Biasanya sahabat menuliskan Al-Qur’an pada media yang terdapat pada waktu itu berupa ar-Riqa' (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu), al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu ( pelepah kurma). Sedangkan jumlah sahabat yang menulis Al-Qur’an waktu itu mencapai 40 orang. Adapun hadis yang menguatkan bahwa penulisan Al-Qur’an telah terjadi pada masa Rasulullah s.a.w. adalah hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh al-Hakim dengan sanadnya yang bersambung pada Anas r.a., ia berkata:  "Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Al-Qur’an (mengumpulkan) pada kulit binatang ".

Dari kebiasaan menulis Al-Qur’an ini menyebabkan banyaknya naskah-naskah (manuskrip) yang dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya yang terkenal adalah: Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Ma'qal.

Adapun hal-hal yang lain yang bisa menguatkan bahwa telah terjadi penulisan Al-Qur’an pada waktu itu adalah Rasulullah SAW melarang membawa tulisan Al-Qur’an ke wilayah musuh. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah kalian membawa catatan Al-Qur’an kewilayah musuh, karena aku merasa tidak aman (khawatir) apabila catatan Al-Qur’an tersebut jatuh ke tangan mereka”.

Kisah masuk islamnya sahabat `Umar bin Khattab r.a. yang disebutkan dalam buku-bukus sejarah bahwa waktu itu `Umar mendengar saudara perempuannya yang bernama Fatimah sedang membaca awal surah Thaha dari sebuah catatan (manuskrip) Al-Qur’an kemudian `Umar mendengar, meraihnya kemudian memba-canya, inilah yang menjadi sebab ia mendapat hidayah dari Allah sehingga ia masuk islam.

Sepanjang hidup Rasulullah s.a.w Al-Qur’an selalu ditulis bilamana beliau mendapat wahyu karena Al-Qur’an diturunkan tidak secara sekaligus tetapi secara bertahap.

Al-Quran pada zaman Khalifah Abu Bakar as Sidq

SEPENINGGAL Rasulullah SAW, istrinya `Aisyah menyimpan beberapa  naskah catatan (manuskrip) Al-Qur’an, dan pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a terjadilah Jam'ul Quran yaitu pengumpulan naskahnaskah atau manuskrip Al-Qur’an yang susunan surah-surahnya menurut riwayat masih berdasarkan pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebab-sebab yang melatarbelakangi pengumpulan naskah-naskah Al-Qur’an yang terjadi pada masa Abu Bakar yaitu Atsar yang diriwatkan dari Zaid bin Tsabit r.a. yang berbunyi:

"Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menceritakan perihal korban pada perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata :" Umar menghadap kapadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al-Qur’an, aku khawatir kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al-Qur’an di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sahabat yang hafal Al-Qur’an, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah memerintahkan untuk mengumpul-kan Al-Qur’an, lalu aku berkata kepada Umar : " bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s. a. w. ?" Umar menjawab: "Demi Allah, ini adalah sebuah kebaikan".

Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul umar untuk mengumpulkan Al-Qur’an.

Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : "engkau adalah seorang pemuda yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau menulis wahyu (Al-Qur’an) untuk Rasulullah s. a. w., maka sekarang periksa dan telitilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf".

Zaid berkata : "Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Kemudian aku teliti Al-Qur’an dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu, dan hafalan para sahabat yang lain).

Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 12 H. Setelah ia wafat disimpan oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah ia pun wafat mushaf tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w. yang bernama Hafsah binti Umar r.a.

Semua sahabat sepakat untuk memberikan dukungan mereka secara penuh terhadap apa yang telah dilakukan oleh Abu bakar berupa mengumpulkan Al-Qur’an menjadi sebuah Mushaf. Kemudian para sahabat membantu meneliti naskah-naskah Al-Qur’an dan menulisnya kembali. Sahabat Ali bin Abi thalib berkomentar atas peristiwa yang bersejarah ini dengan mengatakan : " Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, semoga ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur’an, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Al-Qur’an sebagai Mushaf).

Menurut riwayat yang lain orang yang pertama kali menyebut Al-Qur’an sebagai Mushaf adalah sahabat Salim bin Ma'qil pada tahun 12 H lewat perkataannya yaitu : "Kami menyebut di negara kami untuk naskah-naskah atau manuskrip Al-Qur’an yang dikumpulkan dan di bundel sebagai MUSHAF" dari perkataan salim inilah Abu bakar mendapat inspirasi untuk menamakan naskah-naskah Al-Qur’an yang telah dikumpulkannya sebagai al-Mushaf as Syarif (kumpulan naskah yang mulya). Dalam Al-Qur’an sendiri kata Suhuf (naskah ; jama'nya Sahaif) tersebut 8 kali, salah satunya adalah firman Allah QS. Al Bayyinah (98):2 " Yaitu seorang Rasul utusan Allah yang membacakan beberapa lembaran suci. (Al-Qur’an)"

Al-Quran pada jaman khalifah Umar bin Khatab

Tidak ada perkembangan yang signifikan terkait dengan kodifikasi Al-Qur’an yang dilakukan oleh khalifah kedua ini selain melanjutkan apa yang telah dicapai oleh khalifah pertama yaitu mengemban misi untuk    menyebarkan    islam     dan mensosialisasikan sumber utama ajarannya yaitu Al-Qur’an pada wilayah-wilayah daulah islamiyah baru yang berhasil dikuasai dengan mengirim para sahabat yang kredibilitas serta kapasitas ke-Al-Quranan-nya bisa dipertanggungjawabkan Diantaranya adalah Muadz bin Jabal, `Ubadah bin Shamith dan Abu Darda'.

Al-Quran pada jaman khalifah Usman bin ‘Affan

Pada masa pemerintahan Usman bin 'Affan terjadi perluasan wilayah islam di luar Jazirah arab sehingga menyebabkan umat islam bukan hanya terdiri dari bangsa arab saja ('Ajamy). Kondisi ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif.

Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al-Qur’an, karena bahasa asli mereka bukan bahasa arab. Fenomena ini di tangkap dan ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang sahabat yang juga sebagai panglima perang pasukan muslim yang bernama Hudzaifah bin al-yaman.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu termasuk soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al-Qur’an yang mengarah kepada perselisihan.

Ia berkata : "wahai usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al-Qur’an, jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani ".

Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Usman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin al'Ash, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.

Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al-Qur’an ini terjadi pada tahun 25 H, Usman berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy karena Al-Qur’an diturunkan dengan gaya bahasa mereka.

Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan lagi kepada Hafsah. Selanjutnya Usman memerintahkan untuk membakar setiap naskah-naskah dan manuskrip Al-Qur’an selain Mushaf hasil salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.

Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia simpan di Madinah yang belakangan dikenal sebagai Mushaf al-Imam.

Tindakan Usman untuk menyalin dan menyatukan Mushaf berhasil meredam perselisihan dikalangan umat islam sehingga ia manual pujian dari umat islam baik dari dulu sampai sekarang sebagaimana khalifah pendahulunya Abu bakar yang telah berjasa mengumpulkan Al-Qur’an.

Adapun Tulisan yang dipakai oleh panitia yang dibentuk Usman untuk menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm alAnbath tanpa harakat atau Syakl (tanda baca) dan Nuqath (titik sebagai pembeda huruf).

Tanda Yang Mempermudah Membaca Al-Quran

Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St.PitersBurg) dan umat islam dilarang untuk melihatnya.

Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia tengah).

Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo mesir dan Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya.

Sampai suatu saat ketika umat islam sudah terdapat hampir di semua belahan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu I’rab) yang berupa tanda titik.

Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa suatu ketika Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan orang arab dan baru masuk islam membaca kasrah pada kata "Warasuulihi" yang seharusnya dibaca "Warasuuluhu" yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga bisa merusak makna.

Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti "adzabun alim" dan membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti "ghafurrur rahim".

Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim (W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H.

Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an khususnya bagi orang selain arab dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad.

Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah ayat dan mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah 'ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al-Qur’an adalah Tajzi' yaitu tanda pemisah antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz dan diikuti dengan penomorannya (misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3) dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.

Sebelum ditemukan mesin cetak, Al-Qur’an disalin dan diperbanyak dari mushaf utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Qur'an untuk pertama kali di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.

Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin cetak ini semakin mempermudah umat islam memperbanyak mushaf Al-Qur’an. Mushaf Al-Qur’an yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat islam sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.

Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di Kazan pada tahun 1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858, seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Al-Qur’an yang dilengkapi dengan pedoman yang amat bermanfaat.

Sayangnya, terbitan Al-Qur’an yang dikenal dengan edisi Fluegel ini ternyata mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak sesuai dengan sistem yang digunakan dalam mushaf standar. Mulai Abad ke-20, pencetakan Al-Qur’an dilakukan umat islam sendiri. Pencetakannya mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya kesalahan cetak.

Cetakan Al-Qur’an yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkanQiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al-Qur’an dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.

ps: saya hanya menyampaikan. Namun kebenaran tetaplah.. Wallahu a'lam bisshawab :)

Demi setapak print foot

Duri-duri di jalan selalu saja bertebaran tiada habisnya. Menginjaknya adalah suatu kesalahan yang lebih disayangkan. Tapi berterima kasihlah banyak2 kepada mereka yang menyapu jalanan, menyelamatkan dengan solusi tanpa banyak cakap :' *your fellow*

Beloved akhi wa ukhti

free counters